The Central Business Buka Blok Baru

0 comments

Lokasi Strategis, Hadap Jalan Raya

PT Mahkota Satelite City membuka blok baru B2 untuk The Central Business atau Rumah Toko (Ruko). Rumah Toko yang ditawarkan ini lokasinya sangat strategis dan menghadap jalan raya. ''The Central Business yang kami tawarkan ini merupakan deretan ruko yang menghadap jalan,'' papar Taufik, Marketing Executive The Central, Minggu kemarin.

Untuk tahap pertama, lanjut Taufik, tinggal tiga unit ruko lagi yang masih tersedia. Keuntungan menjadi salah satu pemilik Ruko di The Central Business ini ROW jalannya 30 meter, selain itu developer sudah merancang dengan shopping arcade dan food arcade konsep citywalk. Sehingga memudahkan konsumen untuk melihat-lihat pertokoan di sepanjang jalan.

''Kami mengambil konsep perbelanjaan di Singapura, sehingga konsumen tidak bebas berjalan di sepanjang pertokoan tanpa merasa terganggu dengan kendaraan yang melintang,'' terangnya.

Pembangunan Ruko The Central Business ini dibangun dalam tiga dan dengan jarak pedestrian 5 meter yang menghadap jalan raya. Sedangkan untuk ukuran ruko di lantai satu dibangun dengan luas 5 x 15 meter, lantai dua dan tiga dibangun ukuran 5 x 18,5 meter.

''Harga ruko ini Rp788 juta dan bisa dicicil sebanyak 36 kali per bulan hanya perlu bayar Rp21 juta,'' tuturnya. Ruko yang ditawarkan PT Mahkota Satelite City ini bisa digunakan untuk perkantoran, usaha salon atau spa hingga rumah makan. ''Pemilik ruko tidak boleh menjual perlengkapan bangunan dan bengkel. Hal ini untuk menjaga kebersihan dan kenyaman bersama,'' tukasnya.

Harga Emas Turun, Konsumen Jual Emas

0 comments

Harga emas di pasaran mengalami naik turun membuat harga emas jadi tidak menentu. Saat ini harga emas per gram untuk yang 24 karat Rp232 ribu. Sebelumnya harga emas 24 karat ini Rp233 ribu per gram. ''Hari ini (Senin, red), harga emas turun seribu, naik turunnya harga emas ini disebabkan BBM yang mengalami kenaikan harga dan juga pengaruh dari dolar,'' ujar Rico, karyawan Toko Emas Banda Baru, Senin (10/12) kemarin.

Harga emas saat ini sudah bisa dibilang stabil. Karena harga emas di pasaran sempat mencapai Rp236 ribu per gram untuk emas 24 karat. Sedangkan dari segi penjualannya, Rico menuturkan, mengalami penurunan 60:40. Karena saat ini banyak konsumen yang menjual emasnya, dibanding membeli emas.

Bila dibandingkan dengan akhir tahun 2006, penjualan emas mengalami peningkatan. Alasan penurunan pembelian emas, diungkapkan Rico, karena saat ini harga emas tinggi dibanding tahun lalu. Sehingga banyak konsumen lebih memilih menjual emas daripada membeli emas.

''Dulu banyak orang beli, sekarang banyak orang jual. Walaupun ada yang minat membeli emas tetapi gramnya yang kecil-kecil, hanya untuk dijadikan perhiasan bukan sebagai investasi,'' ungkapnya.

Berbeda dengan tahun lalu, lanjut pria asal Padang itu, konsumen membeli emas untuk dijadikan investasi. Sekarang ini konsumen membeli emas hanya sekedar untuk perhiasan.

Sementara itu, Anisa, seorang konsumen menuturkan, dirinya menjual perhiasan emasnya dikarenakan besarnya biaya kebutuhan, sedangkan pemasukan tidak bertambah. ''Saya selalu berusaha mengantisipasi bila terjadi hal seperti ini. Saya membeli perhiasan emas selain bisa digunakan juga bisa dijual bila keadaan sedang terjepit. Saat ini semua barang pada naik, tetapi pemasukan tidak bertambah,'' tukasnya.

Nama-nama Alat Perawatan kuku

0 comments

Senang melakukan perawatan kuku di salon, tidak ada salahnya untuk mengetahui nama-nama alat yang digunakan di salon. Siapa tau aja bisa digunakan di rumah, saat lagi iseng plus lagi 'bokek'..

Nail Buffer ini berfungsi ganda, karena bisa digunakan untuk mengkikir, membersihkan dan juga mengkilatkan kuku. Jadi, alat ini wajib dimiliki, untuk melakukan perawatan dasar pada kuku. Nail Buffer ini bisa Anda dapatkan dengan harga Rp15 ribu.

Sedangkan, gunting kutikula ini di jual seharga Rp55 ribu. Alat ini berfungsi untuk memotong kulit mati atau memotong kutikula. Karena, pada setiap sisi di kuku kita, sering didapati kulit mati, sehingga membuat kuku terlihat tidak menarik.

Alat satu ini, juga wajib dimiliki, bagi Anda yang ingin melakukan perawatan di rumah. Karena berfungsi untuk mendorong kutikula. Alat dengan nama pendorong kutikula ini, bisa Anda dapatkan dengan harga Rp25 ribu.

White block, bentuknya yang persegi panjang dan berwarna putih ini, meskipun berukuran kecil. Namun, bisa mengangkat kotoran yang ada dipermukaan kuku. Sehingga, kuku terlihat lebih bersih dan indah.

Sementara kikir, bisa Anda dapatkan dengan harga Rp20-25 ribu, gunanya kikir ini untuk membentuk atau merapikan kuku Anda setelah Anda gunting.

kembali lagi

0 comments

Setelah seminggu mengambil cuti, rasanya kangen juga untuk mengisi berbagai tulisan di sini... Banyak hal yang terjadi selama seminggu. Lumayan juga setelah bekerja, menenangkan pikiran. Biar tidak terlalu stresh berkepanjangan.....

Aku merasa semuanya, bisa kembali normal. Melakukan rutinitas seperti biasa bekerja, mengajar dan membaca serta menulis atau menambah isi di blog ini... Rasanya, bakal lebih menyenangkan dari hari-hari biasa..... Kadang kesibukan sehari-hari membuat kita merasa bosan. Apalagi kalau rutinitasnya itu-itu saja. Boring deh....

Karena itu biar tidak boring dan kinerja tetap bagus serta energik. Cuti itu perlu, biar begitu masuk kerja kembali bersemangat..... Karena bensin alias tenaganya sudah diisi penuh..... :D

Suami Ku Menulari Ku HIV (bagian ke 2- Habis)

0 comments

Begitu Anak Ku Cukup Umur, Kan Ku Beri Tahu

Penyakit yang diderita Iren dan suaminya menyebar di tempat tinggalnya di Bukit Senyum. Masyarakat yang masih belum mengetahui dengan benar informasi HIV/AIDS mengusir mereka dari tempat tinggal mereka. ''Kami diusir dari tempat tinggal kami. Saya masih ingat mereka bilang, Pulang saja sana ke kampung, padahal saat itu kondisi kami sedang parah-parahnya,'' ujar Iren mengingat kejadian yang dialaminya empat tahun silam itu.

Di saat terpojok oleh lingkungan sekitarnya, orangtua Iren terus memberikan dukungan moral. Iren beserta keluarganya pindah dari Bukit Senyum dan memilih tempat tinggal baru di Jodoh, dimana orang-orang di lingkungan itu tidak mengetahui keadaannya.

''Kami tidak memutuskan untuk pulang kampung, tetapi kami pindah rumah ke Jodoh. Keluarga ku terus memberikan dukungan. Orangtua ku mengetahui penyakit ku dari dokter langsung, sedangkan saudara-saudara ku diberitahu secara perlahan di VCT melalui konseling,'' ungkapnya.

Setelah keduanya (Anto dan Iren) dinyatakan positif HIV/AIDS, Iren memikirkan nasib anaknya yang baru berusia dua bulan. Ia merasa takut kalau anak semata wayangnya ikut tertular HIV/AIDS semasa dalam kandungan. ''Begitu kami dinyatakan positif HIV, yang kami kuatirkan anak kami. Kami was-was kalau dia ikut tertular. Karena usianya masih terlalu muda, sehingga belum bisa di lakukan serangkaian test,'' papar wanita berambut panjang itu.

Setelah usia anaknya menginjak enam bulan dilakukan pemeriksaan ke dokter, tetapi hasil test masih belum bisa dipastikan, karena sang anak masih menggunakan darah dari mamanya. ''Anak kami masih belum bisa dipastikan positif HIV. Kami berharap dia tidak tertular. Saat dia masih berusia dua bulan, ASI (ari susu ibu) saya mengering dengan sendirinya,'' ungkapnya.

Sehingga ia tidak lagi memberikan ASI kepada buah hatinya. Saat usia anaknya 18 bulan, baru diketahui hasil pemeriksaannya positif HIV. ''Waktu di test CD4 nya masih tinggi 1000. Untuk ukuran anak itu masih sehat, sekarang ini usia anak saya jalan empat tahun. Saya harap ia akan baik-baik saja sampai dewasa,'' harapnya dengan suara lirih.

Januari 2008 nanti, usia buah hati Iren dan Anto genap berusia 4 tahun. Untuk anak yang tertular HIV dari orangtuanya membuat Iren lebih memperhatikan pola makan anaknya. ''Saya selalu memperhatikan makanan yang anak saya makan, bila dia sedang sakit saya tidak akan memberikannya es atau apapun,'' ungkapnya.

Mengenai penyakit HIV yang diderita anaknya, Iren akan terus menyembunyikan masalah ini hingga anaknya dewasa. Iren menuturkan, saya akan memberitahukan penyakit HIV ini, bila anak saya sudah memahami benar apa itu HIV. ''Mungkin diusianya 12 tahun, saya akan memberitahukan pelan-pelan mengenai masalah ini. Karena ini untuk kebaikannya sendiri. Saya tidak mungkin memperhatikan pola makannya di luar,'' ujarnya.

Diakui Iren, setelah dinyatakan positif HIV kondisinya tidak seperti dulu. Sebab, dirinya jadi cepat lelah dan tidak boleh banyak pikiran, apalagi sampai stres. ''Banyak kawan-kawan senasib yang meninggal sebelum waktunya, karena masih banyak orang yang diskriminasi terhadap ODHA. Padahal kami ini membutuhkan dukungan, setidaknya dari keluarga sendiri dan lingkungan sekitar,'' tuturnya.

Penderita HIV/AIDS masih bisa hidup normal, layaknya orang sehat. Hanya saja virus HIV/AIDS menyerang kekebalan tubuh. Karena itu penderita HIV/AIDS harus rutin dan tepat waktu minum obat retroviral. ''Banyak kejadian lucu mengenai pengaruh obat retroviral, kalau saya obat itu menyerang sel darah merah. Sehingga sering pusing dan anemia. Dokter mengantikan obat retroviral yang lain. Kalau kawan ku, ada tuh yang sampai kulitnya jadi gatal-gatal karena alergi terhadap obat itu,'' ujarnya.

Kawan ku, lanjutnya, pernah bilang mau nuntut dokter karena kulitnya jadi rusak, belang-belang karena minum obat yang diberikan dokter. Bila menceritakan mengenai kawan-kawan yang satu perkumpulan, terlihat ada terbesit binar mata yang cerah. Ia merasa pergaulannya jadi terbatas karena sekarang ia tidak seperti dulu lagi.

''Kami bisa hidup layaknya orang normal dan penyakit kami ini tidak menular bila bersentuhan, berpelukan ataupun makan bareng. Saya pernah berkunjung ke rumah orangtua yang di Bukit Senyum, ada beberapa tetangga yang mengatakan masih hidup ya kamu,'' tuturnya. Ia melanjutkan, saya jawab saja, iya sambil ketaw-tawa. Kematian itu kan sudah diatur dari yang diatas. Orang sehat saja bisa meninggal mendadak. Jadi tidak ada masalah.

''Lingkungan tempat tinggal kami dulu, tidak terlalu mengucilkan saya lagi, kalau saya bermain ke sana. Karena sekarang mereka sudah mengetahui HIV/AIDS tidak menular hanya dengan berjabat tangan,'' pungkasnya.

Jumlah AIDS Meningkat

0 comments

Voluntary Counseling and Treatment (VCT) Rumah Sakit Budi Kemulian untuk memperingati hari AIDS sedunia Hari ini, Sabtu (1/12) akan membagikan pita sebagai simbol hari AIDS sedunia. ''Kami akan membagikan pita dibeberapa titik, seperti di simpang Bank Lippo dan simpang Jam sebagai tanda hari AIDS sedunia,'' papar Fransiska, dokter klinik VCT RSBK.

Kegiatan VCT, lanjut Fransiska, tidak hanya sewaktu hari AIDS sedunia saja, tetapi tiap bulannya selalu melakukan penyuluhan di beberapa tempat, seperti di Lapas. Jumlah penderita AIDS di Indonesia, khususnya di Batam setiap tahunnya bertambah. Data di VCT RSBK hingga September 2007 yang melakukan counseling 1048 dan yang ikut testing atau pemeriksaan darah HIV/AIDS 1007, dari jumlah yang mengikuti test HIV/AIDS yang dinyatakan positif HIV 135 orang.

''Gejala HIV/AIDS ini membutuhkan waktu paling cepat 3 sampai lima tahun dan yang ada yang butuh waktu 5 hingga 10 tahun,'' ungkapnya. Sebenarnya HIV/AIDS mempunyai arti yang berbeda. HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini merupakan virus yang dapat menyebabkan AIDS. Sampai saat ini, belum ada obat yang bisa menyumbuhkan HIV/AIDS dan virus itu akan tetap berada dalam tubuh penderita.

Penderita HIV positif masih kelihatan dan merasa sehat. Sedangkan
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. AIDS jarang sekali terdiri dari satu penyakit saja tetapi terdiri dari sebuah kumpulan atau kombinasi berbagai macam penyakit yang muncul karena tubuhnya tidak dapat melawan penyakit lagi seperti dulu.

Pada saat darah terinfeksi virus HIV maka sistem kekebalan tubuh diserang dan dirusak dengan perlahan-lahan sehingga sistem kekebalan tubuh tidak dapat melawan infeksi dan penyakit biasa lagi. ''Meskipun kami sering melakukan penyuluhan tetapi keinginan masyarakat masih minim untuk melakukan pemeriksaan test HIV/AIDS, mereka takut bila mengetahui terkena HIV/AIDS tidak ada obatnya,'' ungkap wanita berkulit putih itu.

Fransiska melanjutkan, bila tahu lebih dini bisa diberikan obat retroviral untuk menghambat penyebarang virus HIV/AIDS. ''Sekarang ini dokter di puskesmas dan klinik lebih teliti lagi dan terlatih untuk melihat kondisi pasien yang terkena virus HIV/AIDS,'' tambah siska.

Siska menyarankan, ada baiknya ibu hamil memeriksakan diri untuk melakukan test HIV/AIDS. Hal ini bertujuan untuk menghindari janin yang dikandungnya ikut menderita HIV/AIDS. ''Di Batam 70 persen HIV/AIDS ditularkan melalui sex lawan jenis, 8 persen sejenis, IDIO (melalui jarum suntik atau pemakaian drug) 8-9 persen, ibu dan anak 2-3 persen,'' pungkasnya.

Suami Ku Yang Menulari HIV (bag-1)

2 comments

*Aku Pasrah Menerima Keadaan

Banyak penderita ODHA yang dialami ibu rumah tangga, satu diantaranya Iren (bukan nama sebenarnya). Penyakit yang dideritanya ini berasal dari suaminya. ''Waktu usia anak kami satu bulan lebih, suami saya mulai sakit-sakitan. Kondisinya makin hari makin parah,'' papar Iren.

Sakit yang diderita suami ku, lanjut Iren, batuk berkepanjangan, tidak nafsu makan, berat badan turun dratis, dan ia juga mengalami diare. ''Melihat kondisi dirinya sendiri, suami ku merasa curiga. Lalu, ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke Jakarta. Kebetulan orangtuanya tinggal di sana,'' tutur wanita berkulit sawo matang itu.

Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan dan test darah, dugaan suaminya benar. Ia dinyatakan positif HIV oleh dokter yang memeriksanya. ''Suami ku harus di rawat di rumah sakit dan oleh dokter ia dinyatakan hanya bisa bertahan hidup dua tahun lagi. Karena tidak bisa disembuhkan, ia pun memutuskan untuk kembali ke Batam,'' ungkapnya.

Sepulangnya dari rumah sakit di Jakarta, tingkah laku suaminya sangat aneh. Dia sering menangis sendirian. Penyebab keanehan tingkah laku suaminya ini tidak pernah diketahuinya. Karena suaminya tidak pernah bilang mengenai penyakit yang dideritanya itu.

Iren bekerja di satu perusahaan yang ada di Batam, karena banyak pekerjaan yang harus dikerjakan di tempatnya bekerja membuat kondisinya jadi sering sakit-sakitan, seperti demam dan sakit kepala. ''Saya pikir, saya hanya kecapean saja. Setiap habis minum obat sakit kepala, saya kembali sehat,'' tuturnya.

Namun kondisinya semakin hari semakin parah. Melihat kondisi istrinya yang makin hari makin kurus, suaminya pun merasa curiga. Lalu, ia membawa istrinya ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK). Pada saat pemeriksaan darah, kondisi Iren benar-benar parah. Waktu suster ingin mengambil sample darah, ia tidak diberitahu untuk apa darahnya diambil. ''Suster hanya bilang mengambil darah untuk test medis. Saya tidak tahu darah saya diambil untuk test HIV/AIDS. Karena saat itu kondisi saya benar-benar antara sadar dan tidak. Suami saya tidak pernah memberitahukan mengenai pemeriksaan HIV,'' ujarnya.

Sampai hasil test keluar, dan ia dinyatakan positif HIV, suaminya masih merahasiakan hal tersebut darinya. ''Suami saya merahasiakan itu dari saya. Karena ia takut saya drop lagi,'' tuturnya sambil mata berkaca-kaca. Ia menambahkan, hasil pemeriksaan menyatakan CD4 saya rendah hanya 9, jauh diatas kondisi sehat yang seharusnya diatas 2000.

Setelah kondisinya mulai membaik, suaminya memberitahukan bahwa ia positif HIV. Waktu itu wanita kelahiran Tembilahan itu masih belum paham atau masih awam mengenai virus HIV, reaksinya saat itu biasa-biasa saja. ''Saya ini kan orang kampung, saya mana tahu tentang HIV. Waktu pertama kali dibilang positif HIV, saya biasa-biasa aja,'' ungkapnya.

Iren pun sering melakukan konseling di VCT (Voluntary Counseling and Treatment) RSBK dan ia pun baru mengerti bahwa penyakit yang dideritanya itu mematikan. ''Saya tidak pernah menyangka, apalagi membayangkan hal itu. Suami saya menangis dan meminta maaf, saya pasrah dan menerima saja keadaan ini,'' ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Orangtua saya, lanjut Iren, sempat marah-marah dengan suami saya. Karena membuat saya jadi seperti ini. Saya sudah pasrah dengan keadaan dan saya membesarkan hati orangtua agar menerima keadaan ini.
Suami Iren bukan lah pria yang sedang 'jajan' di luar. Ia tertular penyakit HIV ini karena ia pemakai atau ngedrug'. ''Saya kenal suami saya waktu berusia 17 tahun, ia dulunya tukang ojek yang mangkal di depan rumah. Saya dulu sering naik ojeknya dan kami menikah,'' katanya.

Sebelum menikah, tutur Iren, suami saya ngedrug. Tetapi setelah menikah ia sudah mulai menguragi memakai obat-obatan. Ia hanya sekali-kali memakai bila diajak kawannya. ''Saya tidak menyalahkan suami saya, walaupun pada dasarnya saya tertular dari dia, tetapi saya tahu pasti dia pun sebenarnya tidak mau nularin ke saya. Apa mau dikata mungkin sudah nasib saya jadi ODHA. saya terima tanpa merasa dendam sama suami saya yang telah menjadikan saya ODHA,'' ujarnya.

Woman World | Dunia Wanita Masa Kini | Sehat dan Harmonis